Selasa, 16 Oktober 2012

BAHAGIA ITU ABADI

BAHAGIA TAK BERSYARAT Dengan mudahnya banyak orang mengatakan kata stress sebagai bukti tidak bahagia. “wah saya stres nih!” begitu kata yang sering muncul dari orang-orang. Bahkan ungkapan melas sejenis itu sempat menjadi judul atau tema lagu-lagu dangdut Indonesia jadul, seperti, Aku orang termiskin di dunia, Baju satu kering di badan. Sungguh memprihatinkan. Saya jadi curiga, jangan jangan pemimpin yang senang mengumbar ungkapan,” saya prihatin...” mencerminkan mentalitas sebagian besar orang yang dipimpinnya –naudzubillahi mindzalik! Mengapa begitu mudahnya kata tak bermutu itu berhamburan? Apakah itu hanya kata pelampiasan akan kepenatan otak yang digulung berbagai problem, atau kekosongan jiwa, atau rasa teralienasi atau rasa sepi, atau rasa ketakberdayaan sehingga untuk mengambil simpati orang, mencari perhatian orang, keluarlah kata-kata itu. Mereka tidak menyadari , bahwa kata-kata itu justru berakibat buruk. Kesan orang menjadi buruk kepadanya dan mengotori mentalitas mereka, dan ini menjadi tertutupnya pintu rizki, kata buruk itu juga menebar energi negatif, menyedot energi positif. Bahkan lebih parah lagi, dia kehilangan kesempatan untuk menggenggam kegembiraan dan kebahagiaan. Memang sifat manusia senang berkeluh kesah bila ditimpa musibah dan lupa diri jika mendapat kegembiraan. Tentu itu manusia kelas rendah, yang kebahagiaannya dia gantungkan pada benda atau kepada segala sesuatu yang rendah dan nisbi. Kita seharusnya meresapi firman Allah dalam sebuah hadits qudsi, “Aku berbuat seperti sangkaan hambaKu, bila ia menyangka kebaikan Aku akan baikan ia, dan sebaliknya bila ia menyangka buruk Aku akan burukkan ia Dan aku bersamanya, selama dia mengingat Ku.” Untuk bahagia hanya satu fondasinya, yaitu kepasrahan total kepada Sang Maha Kuasa. Dan tidak mensyaratkan apapun yang tidak penting. Seperti: “ aku akan nikah bila aku sudah punya ini dan itu”, “aku bahagia kalau aku menduduki jabatan ini dan itu”, “aku bahagia kalau sudah ini dan itu”. Ada lagi yang memahami, bahwa bahagia itu kalau dapat rizki. Ini jelas pemahaman materialistis, sehingga makna rizki dipersempit hanya urusan materi, urusan jasmani. Padahal rizki itu sangat luas maknanya, yang dapat kita pahami dalam tiga ranah, yaitu rizki dalam bentuk materi –ini yang paling rendah, dalam bentuk kesehatan dan- yang tertinggi- dalam bentuk iman dan taqwa. Sebab banyak orang kafir yang lebih kaya dan lebih sehat dari orang yang beriman, padahal mereka miskin dan sakit jiwa dan akal sehatnya tentu tidak bahagia, karena tidak punya iman, apalagi taqwa. Maka sengsaralah orang yang mengatakan: “ semua perlu duit, gak punya duit qoit!” atau mengatakan :” cari yang haram saja susah apalagi yang halal!” subhanallah. Inilah mitos yang merusak tatanan nilai-nilai dalam diri dan dalam masyarakat. Nilai yang jauh dari keimanan dan ketaqwaan. Berbahagialah, karena bahagia hak semua orang. Bahagia bisa diraih kapan saja di mana saja tanpa ada yang mencurinya, kecuali bila kita mengizinkannya untuk dicuri. Ingat pencuri bahagia setiap hari mengintai kita. Dekat dan pasrahlah pada Allah, berpositif hati serta mohon padaNya untuk selalu mampu membahagiakan semua manusia dan makhluk Nya. Dijamin, anda orang yang paling bahagia!

Sabtu, 30 April 2011

Mengenali Dan Mencegah Adiksi Pornografi

* Dari mana anak kenal pornografi.....????
- Iseng (anak yang sudah dilayani sepenuhnya, jadi tidak ada tugas yang perlu dilakukan anak)
- Penasaran
- Terbawa teman (takut dikatakan kuper)

* Mengapa Anak Berpaling pada Pornografi.....???
- Bosan atau kehabisan tenaga
- Lonely/kesepian
- Angry/marah atau Afraid/takut
- Stressed/tertekan
- Tired/lelah

* Ciri-ciri Anak Kecanduan
- Anak menghabiskan waktu lebih banyak didepan perangkat teknologi, seperti internet, game atau HP
- Anak gampang marah
- Self esteem rendah
- kalau bicara tidak mau menatap mata kita
- Suka melawan
- Suka berhayal
- Prestasi akademik merosot tiba-tiba
- mendadak menjadi pendiam
- Anak mengamuk kalau ditegur berhenti melakukan aktivitas tertentu
- mudah haus dan tenggorokan kering, sering minum, dan sering pipis

Jika ditemukan enam saja dari tanda-tanda itu, sudah bisa dicurigai anak terkena adiksi pornografi. Yang menyedihkan, sering kali anak ingin keluar dari jerat adiksi tadi tapi tidak mampu, karena tidak ada yang tahu dan membantunya.

Apa yang dapat dilakukan......???
- Teliti lagi games dan komik yang dibaca anak(buka lemari, Hp, data komputer, maingames bersama anak supaya tahu apa isi/kandungan games tersebut
- Teliti ciri-ciri anak kecanduan
- Berika teladan yang baik misalnya ibu jangan nonton TV supaya anak tidak hobi nonton
- Buatkan jadwl nonton yang sehat (anak dibawah dua tahun sebaiknya tidak menonton TV, anak diatas dua tahun maksimal menonton satu jan setiap hari)
- Ajari fiqih secara benar, sejak usia 8 tahun, dan memberikan pemahaman kepada anak tentang mimpi basah dan haid
- Ajari adab pergaulan
- Lakukan waktu efektif meski tidak efisien dengan anak (perbanyak memberika penghargaan kepada anak dari pada memarahi)
- Jangan banyak instruksi tapi ajaklah anak BMM (berpikir, memilih, dan memutuskan)
- Ajak anak berdiskusi dengan menggunakan logika, ajak anak perpikir mengapa games itu tidak baik dan bimbing anak untuk dapat memilih danmemutuskan
- Selalu bayangkan dalam doa kita, anak kita akan menjadi anak yang sholeh, pintar, sukses, punya istri/suami yang baik dan sholeh karena akan menghadirkan semangat positif dan peluang terkabul sangat besar.

Qs. An-Nisa : 9
"Dan hendaklah takut kepadah Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar"
Maksudnya :
Jangan sampai kita mengembalikan amanah Allah (Anak) dalam keadaan babak belur, terkontaminasi pornografi, rusak mental, dan otaknya......, orang tua dimintai pertanggung jawaban kelak di hari akhir.

Ada empat langkah yang bisa dilakukan untuk menormalkan otak anak kecanduan pornograi :
- Pertama, anak itu perlu menyadari bahwa dirinya kena adiksi (kecanduan).
- Kedua, dia mau keluar dari kecanduan itu dan harus ada dukungan keluarga.
-Ketiga, harus ada terapi.
- Keempat, harus hadirkan Allah didalam dirinya.

Cara pencegahan :
- Orang tua perlu memiliki pengetahuan tentang internet.
- Letakkan komputer ditempat yang mudah di liat.
- Bantu agar anak dapat membuat keputusan sendiri
- Jaga komunikasi yang baik dengan anak.

Di tulis kembali oleh : Masnunah

Rabu, 24 November 2010

Prilaku Kasar Dapat Menurunkan IQ si Kecil

Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua sebagai manusia kadang lupa mengontrol emosi. Berbagai masalah yang dihadapi dan belum lagi energi yang habis ketika mengurus rumah tangga sering laki membuat orang tua lupa menjaga kendali.

Pukulan ringan atau kekerasan terjadi ketika orang tua emosional. Walau begitu tidak sedikit orang tua yang langsung merasa menyesal ketika telah melakukannya.

Universitas Tulane, Los Angeles melakukan penelitihan terhadap kekerasan anak. Hasil anak berusia 3 tahun yang sering mendapatkan kekerasan fisik dari orang tua cenderung bersikap lebih agresif saat berusia 5 tahun. Makin sering kekerasan yang didapat makin agresif pula perilakunya.

Study lain yang dilakukan oleh Universitas Duke, North Carolina menyatakan bahwa balita yang mengalami kekerasan berdampak Intelegence Quotien atau IQ yang rendah. Kekerasan pada bayi saat berusia 1 tahun, akan membuat anak tersebut mempunyai nilai kognitif yang lebih rendah saat mereka di usia mereka 3 tahun dibandingkan dengan balita yang tidak mendapatkan kekerasan dari orang tuanya.

Tapi khilaf memang tidak bisa di hindari. jika terlanjur melakukan kekerasan, maka orang tua bisa meminta maaf kepada sang anak.

Jika pemukulan terjasi saat spontan, orang tua harus menjelaskan secara spesifik dan dengan lembut mengapa mereka melakukan hal tersebut. Mereka juga harus minta maaf kepada anak mereka karena telah kehilangan kendali, menurut American Academy OfPediatrics seperti yang dikutip dari sheknows.

Di tulis ulang oleh Masnunah

Minggu, 31 Oktober 2010

Kiat Mendidik Anak Dengan kekuatan Fitrah

  • Semua anak dilahirkan dalam keadaan suci dan baik, setiap anak unik dan special. Anak-anak datang ke dunia ini dengan membawa takdirnya masing-masing, sesuai dengan skenario Allah SWT. Biji apel secara alamia akan menjadi pohon apel dan tidak dapat menghasilkan buah pepaya atau melon. Sebagai orang tua dan guru, peran kita yang utama adalah mengenali, menghargai serta memupuk proses pertumbuhan yang unik dan alami. kita tidak dapat mengkloning anak sesuai dengan keinginan kita tetapi kita tetap dapat bertanggung jawab untuk mendukung anak mewujudkan potensi yang Allah berikan.
  • Cinta terbukti dapat mencerdaskan anak. Kenapa ? ada bagian tertentu di otak yang mengatur emosi juga pengaruh perkembangan kognitif anak. Hanya dengan suasana nyaman dan aman, anak akan mampu bereksplorasi bebas dan mengambil banyak manfaat dari pengalamannya. Dengan cara ini, tutup otak akan terbuka, dan apa yang telah dihadapinya akan disimpan, diingatkan jangka panjangnya.
  • Setiap anak unik dan punya agenda yang berbeda sehingga belajar aktif akan mengalahkan belajar pasif.
  • Otak lebih cocok dengan kalimat posotif.
  • mendengar aktif ("ya nak, ibu tahu kamu kecewa karena ibu larang kamu bermain, jika ibu meminta kamu belajar karena ibu khawatir kamu tidak naik kelas", dibandingkan dengan kata-kata : "Kenapa sih kamu susah sekali disuruh belajar, muter-muter ja kalau disuru belajar atau nongkrong aja depan TV, besok jual aja TV nya" Akan membuat tutup otak terbuka.
  • Hargailah anak. Harga diri positif akan dapat meningkatkan prestasi anak.
  • Semua anak ternyata dapat mencapai prestasi lebih dari bintang berdasarkan 9 kecerdasan.
  • Menurut Abdullah Nashih Ulwan, ada 10 potensi dalam diri anak yang harus dikembangkan agar fitrahnya tetap terjaga :
  1. Potensi Aqidah
  2. Potensi Ibadah
  3. Potensi Sosial
  4. Potensi Ahlak
  5. Potensi Perasaan dan Kejiwaan
  6. Potensi Jasmani
  7. Potensi Intelektual
  8. Potensi Kesehatan
  9. Pengendalian Potensi Seksual
  10. Potensi Ketrampilan
Ditulis kembali Oleh Masnunah

Sabtu, 23 Oktober 2010

A n a k

Anakmu bukan milikmu
Mereka adalah putra-putri sang hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau
Tetapi bukan dari engkau.
Mereka ada padamu, tetapi bukan milikmu

Berilah mereka kasih sayang,
namun jangan berikan pemikiranmu,
karena pada mereka ada alam pikiran sendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan
yang tidak dapat kau kunungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun tidak boleh membuat mereka menyerupai engkau,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur
Ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur tempat anakmu,
anak panak hidup, melesat pergi.

( Kahlil Gibran )

Kamis, 01 April 2010

Mengenal Gaya Belajar Anak.


individu tidak hanya belajar dengan kecepatan yang berbeda tetapi juga memproses informasi dengan cara yang berbeda. Cara memproses informasi yang diperoleh dikenal dengan istilah gaya belajar. Menurut DePorter dan Hernacki (2002), gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Terdapat tiga jenis gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memproses informasi (perceptual modality). Ketiga gaya belajar tersebut adalah gaya belajar Visual (belajar dengan cara melihat), Auditory (belajar dengan cara mendengar), dan Kinesthetic (belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh). Pada dasarnya setiap individu menggunakan semua indera dalam menyerap informasi. Untuk lebih mengetahui gaya belajar si anak bacalah ketiga gaya belajar di bawah ini.
A. Auditory Learner
Auditory Learner adalah gaya belajar yang memanfaatkan kemampuan "pendengarannya" sebagai cara belajar yang disukainya (Auditory Learner). Beberapa ciri anak Auditory Learner antara lain:
1. Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok atau kelas.
2. Mengenal banyak sekali lagu/iklan TV, dan bahkan dapat menirukannya secara tepat dan komplit.
3. Suka berbicara.
4. Kurang suka tugas membaca (dan pada umumnya bukanlah pembaca yang baik).
5. Kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.
6. Kurang baik dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.
7. Kurang memperhatikan hal-hal baru dalam lingkungan sekitarnya, seperti: hadirnya anak baru, adanya papan pengumuman yang baru, dsb.

B. Visual Learner
Visual Learner adalah gaya belajar yang lebih banyak memanfaatkan "penglihatan" Beberapa karakteristik Visual Learner adalah:
1. Senantiasa melihat bibir guru yang sedang mengajar.
2. Saat petunjuk untuk melakukan sesuatu diberikan, biasanya anak ini akan melihat teman-teman lainnya baru dia sendiri bertindak.
3. Cenderung menggunakan gerakan tubuh (untuk mengekspresikan/ mengganti sebuah kata) saat mengungkapkan sesuatu.
4. Kurang menyukai berbicara di depan kelompok, dan kurang menyukai untuk mendengarkan orang lain.
5. Biasanya tidak dapat mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
6. Lebih menyukai peragaan daripada penjelasan lisan.
7. Biasanya anak semacam ini dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut/ramai tanpa merasa terganggu.

C. Kinesthetic / Tactile Learner
Kinesthetic / Tactile Learner adalah seorang anak yang memanfaatkan "fisiknya" sebagai alat belajar yang optimal.
Beberapa karakteristiknya adalah:
1. Suka menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya.
2. Sulit untuk berdiam diri.
3. Suka mengerjakan segala sesuatu dengan menggunakan tangan.
4. Biasanya memiliki koordinasi tubuh yang baik.
5. Suka menggunakan objek yang nyata sebagai alat bantu belajar.
6. Mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika, peta, dsb) bagi anak ini adalah hal yang sangat sulit.
7. Cenderung terlihat "agak tertinggal" dibanding teman sebayanya. Padahal hal ini disebabkan oleh tidak cocoknya gaya belajar anak dengan metode pengajaran yang selama ini lazim digunakan di sekolah.

Di tulis ulang : Masnunah.

Selasa, 30 Maret 2010

Sepuluh Kesalahan Dalam Mendidik Anak.

Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Maka, kita sebagai orang tua bertanggung jawab terhadap amanah ini. Tidak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak telah menjadi fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar, dan termasuk menghianati amanah Allah.

Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Kumpulan dari beberapa rumah itu akan membentuk sebuah bangunan masyarakat. Bagi seorang anak, sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia akan mendapatkan pendidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan prototype kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, disinilah peran dan tanggung jawab orang tua, dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.

BAHAYA LALAI DALAM MENDIDIK ANAK
Orang tua memiliki hak yang wajib dilaksanakan oleh anak-anaknya. Demikian pula anak, juga mempunyai hak yang wajib dipikul oleh kedua orang tuanya. Disamping Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua. Allah juga memerintahkan kita untuk berbuat baik (ihsan) kepada anak-anak serta bersungguh-sungguh dalam mendidiknya. Demikian ini termasuk bagian dari menunaikan amanah Allah. Sebaliknya, melalaikan hak-hak mereka termasuk perbuatan khianat terhadap amanah Allah. Banyak nash-nash syar’i yang mengisyaratkannya. Allah berfirman.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhamamd) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” [Al-Anfal : 27]

SEPULUH KESALAHAN DALAM MEDIDIK ANAK
Meskipun banyak orang tua yang mengetahui, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orang tua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak menaruh perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya.

Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat durhaka, melawan orang tua, atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua mulai kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.

Lalai atau salah dalam mendidik anak itu bermacam-macam bentuknya, yang tanpa kita sadari memberi andil munculnya sikap durhaka kepada orang tua, maupun kenakalan remaja.

Berikut ini sepuluh bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

[1]. Menumbuhkan Rasa Takut Dan Minder Pada Anak
Kadang, ketika anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti menangis. Kita takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin dan lain-lain. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut : Takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Misalnya takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita-cerita tentang hantu, jin dan lain-lain.

Dan yang paling parah tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakut-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya, anak-anak semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat darah atau merasa sakit.

[2]. Mendidiknya Menjadi Sombong, Panjang Lidah, Congkak Terhadap Orang Lain. Dan Itu Dianggap Sebagai Sikap Pemberani.
Kesalahan ini merupakan kebalikan point pertama. Yang benar ialah bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak dikurang-kurangi. Berani tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada orang lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya : takut berbohong, karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak yang suka berbohong, atau rasa takut kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.

[3]. Membiasakan Anak-Anak Hidup Berfoya-foya, Bermewah-mewah Dan Sombong.
Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqomah dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakah muru’ah (harga diri) dan kebenaran.

[4]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak
Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaanya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik.

[5]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak, Ketika Menangis, Terutama Anak Yang Masih Kecil.
Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.

[6]. Terlalu Keras Dan Kaku Dalam Menghadapi Mereka, Melebihi Batas Kewajaran.
Misalnya dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lainnya. Ini kadang terjadi ketika sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.

[7]. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak, Melebihi Batas Kewajaran
Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai cara. Misalnya : dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain.

[8]. Tidak Mengasihi Dan Menyayangi Mereka,
Sehingga Membuat Mereka Mencari Kasih Sayang Diluar Rumah Hingga Menemukan Yang Dicarinya.

Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas –

[9]. Hanya Memperhatikan Kebutuhan Jasmaninya Saja.
Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Bila kasih sayang tidak di dapatkan dirumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.

[10]. Terlalu Berprasangka Baik Kepada Anak-Anaknya
Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada anak-anaknya. Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya. Ketika tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya terkena narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha menutup-nutupinya serta segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa hanyalan penyesalan tak berguna.

Demikianlah sepuluh kesalahan yang sering dilakukan orang tua. Yang mungkin kita juga tidak menyadari bila telah melakukannya. Untuk itu, marilah berusaha untuk terus menerus mencari ilmu, terutama berkaitan dengan pendidikan anak, agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak, yang bisa menjadi fatal akibatnya bagi masa depan mereka. Kita selalu berdo’a, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah serta berakhlak mulia. Amiin......Ya Robbal Alamin....

Ditulis ulang oleh : Masnunah.