Rabu, 24 November 2010

Prilaku Kasar Dapat Menurunkan IQ si Kecil

Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua sebagai manusia kadang lupa mengontrol emosi. Berbagai masalah yang dihadapi dan belum lagi energi yang habis ketika mengurus rumah tangga sering laki membuat orang tua lupa menjaga kendali.

Pukulan ringan atau kekerasan terjadi ketika orang tua emosional. Walau begitu tidak sedikit orang tua yang langsung merasa menyesal ketika telah melakukannya.

Universitas Tulane, Los Angeles melakukan penelitihan terhadap kekerasan anak. Hasil anak berusia 3 tahun yang sering mendapatkan kekerasan fisik dari orang tua cenderung bersikap lebih agresif saat berusia 5 tahun. Makin sering kekerasan yang didapat makin agresif pula perilakunya.

Study lain yang dilakukan oleh Universitas Duke, North Carolina menyatakan bahwa balita yang mengalami kekerasan berdampak Intelegence Quotien atau IQ yang rendah. Kekerasan pada bayi saat berusia 1 tahun, akan membuat anak tersebut mempunyai nilai kognitif yang lebih rendah saat mereka di usia mereka 3 tahun dibandingkan dengan balita yang tidak mendapatkan kekerasan dari orang tuanya.

Tapi khilaf memang tidak bisa di hindari. jika terlanjur melakukan kekerasan, maka orang tua bisa meminta maaf kepada sang anak.

Jika pemukulan terjasi saat spontan, orang tua harus menjelaskan secara spesifik dan dengan lembut mengapa mereka melakukan hal tersebut. Mereka juga harus minta maaf kepada anak mereka karena telah kehilangan kendali, menurut American Academy OfPediatrics seperti yang dikutip dari sheknows.

Di tulis ulang oleh Masnunah

Minggu, 31 Oktober 2010

Kiat Mendidik Anak Dengan kekuatan Fitrah

  • Semua anak dilahirkan dalam keadaan suci dan baik, setiap anak unik dan special. Anak-anak datang ke dunia ini dengan membawa takdirnya masing-masing, sesuai dengan skenario Allah SWT. Biji apel secara alamia akan menjadi pohon apel dan tidak dapat menghasilkan buah pepaya atau melon. Sebagai orang tua dan guru, peran kita yang utama adalah mengenali, menghargai serta memupuk proses pertumbuhan yang unik dan alami. kita tidak dapat mengkloning anak sesuai dengan keinginan kita tetapi kita tetap dapat bertanggung jawab untuk mendukung anak mewujudkan potensi yang Allah berikan.
  • Cinta terbukti dapat mencerdaskan anak. Kenapa ? ada bagian tertentu di otak yang mengatur emosi juga pengaruh perkembangan kognitif anak. Hanya dengan suasana nyaman dan aman, anak akan mampu bereksplorasi bebas dan mengambil banyak manfaat dari pengalamannya. Dengan cara ini, tutup otak akan terbuka, dan apa yang telah dihadapinya akan disimpan, diingatkan jangka panjangnya.
  • Setiap anak unik dan punya agenda yang berbeda sehingga belajar aktif akan mengalahkan belajar pasif.
  • Otak lebih cocok dengan kalimat posotif.
  • mendengar aktif ("ya nak, ibu tahu kamu kecewa karena ibu larang kamu bermain, jika ibu meminta kamu belajar karena ibu khawatir kamu tidak naik kelas", dibandingkan dengan kata-kata : "Kenapa sih kamu susah sekali disuruh belajar, muter-muter ja kalau disuru belajar atau nongkrong aja depan TV, besok jual aja TV nya" Akan membuat tutup otak terbuka.
  • Hargailah anak. Harga diri positif akan dapat meningkatkan prestasi anak.
  • Semua anak ternyata dapat mencapai prestasi lebih dari bintang berdasarkan 9 kecerdasan.
  • Menurut Abdullah Nashih Ulwan, ada 10 potensi dalam diri anak yang harus dikembangkan agar fitrahnya tetap terjaga :
  1. Potensi Aqidah
  2. Potensi Ibadah
  3. Potensi Sosial
  4. Potensi Ahlak
  5. Potensi Perasaan dan Kejiwaan
  6. Potensi Jasmani
  7. Potensi Intelektual
  8. Potensi Kesehatan
  9. Pengendalian Potensi Seksual
  10. Potensi Ketrampilan
Ditulis kembali Oleh Masnunah

Sabtu, 23 Oktober 2010

A n a k

Anakmu bukan milikmu
Mereka adalah putra-putri sang hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka lahir lewat engkau
Tetapi bukan dari engkau.
Mereka ada padamu, tetapi bukan milikmu

Berilah mereka kasih sayang,
namun jangan berikan pemikiranmu,
karena pada mereka ada alam pikiran sendiri.
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan
yang tidak dapat kau kunungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun tidak boleh membuat mereka menyerupai engkau,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur
Ataupun tenggelam ke masa lampau.
Engkaulah busur tempat anakmu,
anak panak hidup, melesat pergi.

( Kahlil Gibran )

Kamis, 01 April 2010

Mengenal Gaya Belajar Anak.


individu tidak hanya belajar dengan kecepatan yang berbeda tetapi juga memproses informasi dengan cara yang berbeda. Cara memproses informasi yang diperoleh dikenal dengan istilah gaya belajar. Menurut DePorter dan Hernacki (2002), gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Terdapat tiga jenis gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memproses informasi (perceptual modality). Ketiga gaya belajar tersebut adalah gaya belajar Visual (belajar dengan cara melihat), Auditory (belajar dengan cara mendengar), dan Kinesthetic (belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh). Pada dasarnya setiap individu menggunakan semua indera dalam menyerap informasi. Untuk lebih mengetahui gaya belajar si anak bacalah ketiga gaya belajar di bawah ini.
A. Auditory Learner
Auditory Learner adalah gaya belajar yang memanfaatkan kemampuan "pendengarannya" sebagai cara belajar yang disukainya (Auditory Learner). Beberapa ciri anak Auditory Learner antara lain:
1. Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok atau kelas.
2. Mengenal banyak sekali lagu/iklan TV, dan bahkan dapat menirukannya secara tepat dan komplit.
3. Suka berbicara.
4. Kurang suka tugas membaca (dan pada umumnya bukanlah pembaca yang baik).
5. Kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.
6. Kurang baik dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.
7. Kurang memperhatikan hal-hal baru dalam lingkungan sekitarnya, seperti: hadirnya anak baru, adanya papan pengumuman yang baru, dsb.

B. Visual Learner
Visual Learner adalah gaya belajar yang lebih banyak memanfaatkan "penglihatan" Beberapa karakteristik Visual Learner adalah:
1. Senantiasa melihat bibir guru yang sedang mengajar.
2. Saat petunjuk untuk melakukan sesuatu diberikan, biasanya anak ini akan melihat teman-teman lainnya baru dia sendiri bertindak.
3. Cenderung menggunakan gerakan tubuh (untuk mengekspresikan/ mengganti sebuah kata) saat mengungkapkan sesuatu.
4. Kurang menyukai berbicara di depan kelompok, dan kurang menyukai untuk mendengarkan orang lain.
5. Biasanya tidak dapat mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
6. Lebih menyukai peragaan daripada penjelasan lisan.
7. Biasanya anak semacam ini dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut/ramai tanpa merasa terganggu.

C. Kinesthetic / Tactile Learner
Kinesthetic / Tactile Learner adalah seorang anak yang memanfaatkan "fisiknya" sebagai alat belajar yang optimal.
Beberapa karakteristiknya adalah:
1. Suka menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya.
2. Sulit untuk berdiam diri.
3. Suka mengerjakan segala sesuatu dengan menggunakan tangan.
4. Biasanya memiliki koordinasi tubuh yang baik.
5. Suka menggunakan objek yang nyata sebagai alat bantu belajar.
6. Mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika, peta, dsb) bagi anak ini adalah hal yang sangat sulit.
7. Cenderung terlihat "agak tertinggal" dibanding teman sebayanya. Padahal hal ini disebabkan oleh tidak cocoknya gaya belajar anak dengan metode pengajaran yang selama ini lazim digunakan di sekolah.

Di tulis ulang : Masnunah.

Selasa, 30 Maret 2010

Sepuluh Kesalahan Dalam Mendidik Anak.

Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Maka, kita sebagai orang tua bertanggung jawab terhadap amanah ini. Tidak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak telah menjadi fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar, dan termasuk menghianati amanah Allah.

Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Kumpulan dari beberapa rumah itu akan membentuk sebuah bangunan masyarakat. Bagi seorang anak, sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia akan mendapatkan pendidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan prototype kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, disinilah peran dan tanggung jawab orang tua, dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.

BAHAYA LALAI DALAM MENDIDIK ANAK
Orang tua memiliki hak yang wajib dilaksanakan oleh anak-anaknya. Demikian pula anak, juga mempunyai hak yang wajib dipikul oleh kedua orang tuanya. Disamping Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua. Allah juga memerintahkan kita untuk berbuat baik (ihsan) kepada anak-anak serta bersungguh-sungguh dalam mendidiknya. Demikian ini termasuk bagian dari menunaikan amanah Allah. Sebaliknya, melalaikan hak-hak mereka termasuk perbuatan khianat terhadap amanah Allah. Banyak nash-nash syar’i yang mengisyaratkannya. Allah berfirman.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhamamd) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” [Al-Anfal : 27]

SEPULUH KESALAHAN DALAM MEDIDIK ANAK
Meskipun banyak orang tua yang mengetahui, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orang tua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak menaruh perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya.

Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat durhaka, melawan orang tua, atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua mulai kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.

Lalai atau salah dalam mendidik anak itu bermacam-macam bentuknya, yang tanpa kita sadari memberi andil munculnya sikap durhaka kepada orang tua, maupun kenakalan remaja.

Berikut ini sepuluh bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

[1]. Menumbuhkan Rasa Takut Dan Minder Pada Anak
Kadang, ketika anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti menangis. Kita takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin dan lain-lain. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut : Takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Misalnya takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita-cerita tentang hantu, jin dan lain-lain.

Dan yang paling parah tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakut-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya, anak-anak semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat darah atau merasa sakit.

[2]. Mendidiknya Menjadi Sombong, Panjang Lidah, Congkak Terhadap Orang Lain. Dan Itu Dianggap Sebagai Sikap Pemberani.
Kesalahan ini merupakan kebalikan point pertama. Yang benar ialah bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak dikurang-kurangi. Berani tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada orang lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya : takut berbohong, karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak yang suka berbohong, atau rasa takut kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.

[3]. Membiasakan Anak-Anak Hidup Berfoya-foya, Bermewah-mewah Dan Sombong.
Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqomah dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakah muru’ah (harga diri) dan kebenaran.

[4]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak
Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaanya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik.

[5]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak, Ketika Menangis, Terutama Anak Yang Masih Kecil.
Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.

[6]. Terlalu Keras Dan Kaku Dalam Menghadapi Mereka, Melebihi Batas Kewajaran.
Misalnya dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lainnya. Ini kadang terjadi ketika sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.

[7]. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak, Melebihi Batas Kewajaran
Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai cara. Misalnya : dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain.

[8]. Tidak Mengasihi Dan Menyayangi Mereka,
Sehingga Membuat Mereka Mencari Kasih Sayang Diluar Rumah Hingga Menemukan Yang Dicarinya.

Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas –

[9]. Hanya Memperhatikan Kebutuhan Jasmaninya Saja.
Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Bila kasih sayang tidak di dapatkan dirumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.

[10]. Terlalu Berprasangka Baik Kepada Anak-Anaknya
Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada anak-anaknya. Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya. Ketika tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya terkena narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha menutup-nutupinya serta segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa hanyalan penyesalan tak berguna.

Demikianlah sepuluh kesalahan yang sering dilakukan orang tua. Yang mungkin kita juga tidak menyadari bila telah melakukannya. Untuk itu, marilah berusaha untuk terus menerus mencari ilmu, terutama berkaitan dengan pendidikan anak, agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak, yang bisa menjadi fatal akibatnya bagi masa depan mereka. Kita selalu berdo’a, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah serta berakhlak mulia. Amiin......Ya Robbal Alamin....

Ditulis ulang oleh : Masnunah.


Rabu, 10 Maret 2010

Mengenal Fungsi Belahan Otak

Anda pasti tahu bahwa anugerah terbesar yang diberikan oleh Alloh kepada manusia adalah Otak. Otak identik dengan akal karena adanya otak, manusia dapat berfikir untuk menentukan arah hidupnya. Otak merupakan organ penting bagi kehidupan manusia karena otak sebagai koordinator dan pusat pengendali organ-organ tubuh manusia.

Otak manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kanan dan otak kiri. Tahukah anda bahwa kedua belahan otak kita ini mengatur fungsi yang berbeda? Teori tentang perbedaan fungsi otak kanan dan kiri telah populer sejak tahun 1960 ketika seorang peneliti bernama Roger Sperry menemukan bahwa otak manusia terdiri dari dua bagian yang berbeda dan memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda pula.

~ Fungsi Belahan Otak Kanan.

Otak kanan berperan dalam hal persamaan, imajinasi, kreativitas, emosi, musik, warna, dan pengenalan bentuk atau ruang. Para seniman dan musisi biasanya mempunyai otak kanan yang lebih aktif. Mereka mencipta lagu dan bermain musik dengan lebih banyak menggunakan otak bagian kanan. Begitu juga dengan pelukis. Ia mampu melakukan aktivitas kreatif melukis dan bermain warna karena didukung oleh kerja otak kanan.

~ Fungsi Belahan Otak Kiri.

Berbeda dengan belahan otak kanan, otak kiri bersifat logis, rasional, dan sangat teratur. Otak kiri berfungsi dalam hal perbedaan, permainan angka, kemampuan menulis dan berbahasa, serta hitung-hitungan atau kemampuan matematis. Belahan otak kiri ini digunakan oleh seluruh manusia di dunia dalam aktivitas berfikirnya.

~ Perbandingan Belahan Otak Kanan Dan Belahan Otak Kiri.

Bagian otak yang lebih banyak digunakan oleh seseorang dapat diketahui dari dominasi kemampuan indera yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Otak kita menggunakan prinsip silang. Otak kiri mengendalikan anggota gerak dan indera kita yang sebelah kanan. Sementara itu, otak kanan mengendalikan anggota tubuh sebelah kiri.

Otak kiri yang menguasai hal-hal yang berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta menjadi pusat matematika sangat penting dalam kehidupan kita. Apabila dalam proses belajar, banyak subyek pelajaran yang merangsang dan membutuhkan kerja otak kiri. Apabila otak kiri tidak banyak digunakan atau tidak difungsikan dengan baik maka tentunya akan sulit bagi anak untuk menangkap pelajaran yang membutuhkan partisipasi otak kiri, seperti pelajaran bahasa, matematika, dan ilmu pengetahuan alam.

Otak kanan berfungsi untuk melakukan sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan orang laen, dan mengendalikan emosi. Otak kanan juga mendukung kemampuan dalam hal merasakan, memadukan, dan mengekspresikan tubuh (seperti, menari, menyanyi dan melukis). Kemampuan-kemampuan tersebut tidak kalah pentingnya dalam proses pembelajaran dan penyelesaian masalah.

Walaupun kedua belah otak mempunyai fungsi yang berbedah, tetapi setiap orang mempunyai kecenderungan untuk menggunakan salah satu belahan yang dominan dalam menyelesaikan masalah kehidupan maupun pekerjaan.

Setiap belahan otak mendominasi dalam aktivitas, tetapi keduanya terlibat pada hampir semua proses pemikiran. Kedua bagian otak ini mempunyai karakteristik yang saling melengkapi dan akan sangat merugikan apabila salah satu bagian otak lebih mendominasi karena dapat mengalahkan fungsi bagian otak yang lainnya.

Untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal, kedua belah otak perlu digunakan secara seimbang satu sama lain.

~ Perlunya Menyeimbangkan Kerja Otak.

Kerja sama antara otak kanan dan otak kiri mutlak diperlukan oleh anak agar potensi dan tumbuh kembang otaknya menjadi optimal. Menyeimbangkan kinerja belahan otak bukanlah hal yang mustahil. Kita perlu sering melatih pengembangan seluruh kekuatan otak. Potensi tersebut terdapat pada diri setiap orang, termasuk anak-anak.

Apa yang terjadi jika kerja sama antara otak kanan dan otak kiri kurang seimbang? Anda tentu pernah menemui anak atau bahkan orang dewasa yang kikuk dan canggung gerakannya, atau cenderung mudah terpeleset, tersandung, dan memecahkan barang. Hal ini dapat disebabkan oleh kurang baiknya kerja sama antara otak kanan dan otak kiri.

Sumber : Buku Meningkatkan Kecerdasan Anak.

Jumat, 26 Februari 2010

Pesan Orang Bijak Dalam Mendidik Anak.

Para orang tua dan guru yang saya cintai, orang bijak pernah berpesan "Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya karna mereka hihup pada zaman yang berbeda dengan zaman kita hidup dulu." Pesan ini benar-benar memiliki makna yang begitu mendalam, mengapa? Karena kita kerap kali membanding-bandingkan masa lalu kita untuk menjadi sesuatu yang selalu harus ditiru oleh anak-anak kita.

Kita sering lupa bahwa zaman sudah berubah, pendidikan pada zaman kartini dulu dibesarkan tentunya sudah tidak cocok lagi untuk diterapkan pada zaman dulu kita dibesarkan, demikian pula dengan zaman anak kita, dia membutuhkan cara-cara pendidikan baru yang sesuai zamannya.
Jika ingin anak-anak kita maju, tentunya kita juga harus mengajaknya untuk selalu melihat ke depan, dan bukan sebaliknya. Apa yang terjadi bila seseorang berjalan ke depan, tapi selalu diajak menengok ke belakang?
Hampir semua anak, mulai usia prasekolah hingga remaja sering kali membuat masalah, betapa pun sempurnanya orang tua mereka. Mengapa? Hal ini terjadi karena pada awalnya seorang anak memiliki keinginan sendiri yang lahir secara naluriah sebagaimana orang tua mereka, masalah itu mulai muncul manakala keinginan dasar anak secara naluriah tersebut bertentangan dengan nilai-nilai kepatutan yang dianut oleh orang-orang dewasa.

Contoh yang paling sederhana adalah pada kasus anak usia balita. Secara naluriah seorang bayi punya keinginan instingtif untuk memasukkan segala sesuatu yang dipegangnya ke dalam mulut, namun ternyata keinginan tersebut di mata orang tua dianggap kurang sehat dan bahkan cenderung berbahaya, terutama jika yang dimasukkan ke mulutnya adalah benda-benda yang kotor ataupun beracun. Sehingga orang tuanya kerap kali berteriak-teriak untuk melarang anaknya untuk memasukkan benda ke mulut. Padahal belakangan diketahui oleh para ahli bahwa sesungguhnya memasukkan sesuatu ke mulut tersebut adalah dalam rangka melatih indra perasa si bayi. Seandainya kita para orang tua mengetahui adanya kebutuhan dasar yang alamiah ini mungkin kita tidak akan memberikan reaksi terlalu berlebihan bagi perilaku anak-anak kita yang kita anggap kurang patut tadi.

Perbedaan keinginan dasar anak dengan nilai-nilai kepatutan orang dewasa ini terus berlangsung mulai usia mereka balita hingga dewasa. Namun sayangnya, kebanyakan orang tua tidak menyadari jika anak-anak mereka membutuhkan waktu untuk bisa menyesuaikan antara keinginan-keinginan dasar mereka sendiri dengan nilai-nilai kepatutan yang dianut oleh orangtuanya. Sehingga kerap kali kita bukannya memberikan pemahaman yang baik pada anak sampai dia benar-benar memahami apa yang diharapkan orangtuanya, malahan melakukan intervensi yang berlebihan seperti dalam bentuk bentakan, teriakan atau bahkan mungkin cubitan, pukulan dan sebagainya, yang kerapkali justru melukai perasaan si anak dan bukan mendidiknya untuk menjadi lebih baik.
Apabila para orang tua tidak segera menyadari kesalahannya ini, maka akan berakibat sangat fatal. Proses mendidik anak akan terasa sangat berat dan selalu dipenuhi dengan pertengkaran yang semakin hari semakin para.

Ketahuilah bersama bahwa masa depan anak adalah masa depan bangsa, dan masa depan anak yang sukses tergantung sepenuhnya pada kemampuan para orang tua untuk mendidik anak-anak secara tepat.

Mari kita mulai belajar menjadi orangtua yang baik dan mari kita bangun indonesia yang kuat melalui anak-anak kita tercinta.
Let's Make Indonesia Strong From Home. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi ???!!! Di kutip dari buku I Love You Ayah Bunda, Karya Ayah Edy.

Rabu, 24 Februari 2010

Untuk mu para orang tua......

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesrkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan. ( Dorothy Law Nolte)

Senin, 08 Februari 2010

Untuk para orang tua dan pendidik.....

Anak adalah amanah bagi kita, yang harus kita jaga, kita pelihara, kita bimbing, kita hantarkan pada masa depan, tentunya masa depan yang gemilang. Tapi kita sering kali salah dalam proses penghantaran itu sendiri, cara yang kita pakai malah sering kali mencederai mereka.
Kita sering memaksakan keinginan kita dengan dalih mengarahkan anak ke jalur yang tepat demi masa depan mereka.
Kita sering memaksakan anak untuk bagus dalam semua nilai mata pelajaran di sekolah, kita cenderung memaksakan anak untuk mendapatkan rangking di kelasnya. Di sinilah penyebab terjadinya cedera pada anak, anak sering kehilangan waktu bermainnya yang seharusnya itu adalah hak mutlak mereka di masanya, karena anak terus dipaksa untuk belajar, belajar dan belajar, anak juga jadi tidak punya kebebasan dalam memilih, karna orang tua cenderung memaksakan kehendak, tanpa memikirkan jiwa anak.

Banyak persepsi dengan IQ (Intellegence Quotient) yang tinggi pasti masa depannya akan gemilang trus bagaimana dengan anak yang terlahir dengan IQ yang sedang, rendah ??? Apakah mereka tidak akan punya masa depan ???
Sampai saat ini masih banyak orang tua juga guru yang masih terjebak pada pandangan tradisional tersebut.

Para orang tua setiap anak yang terlahir dibekali Allah kecerdasan, semua anak adalah bintang, Ada 9 kecerdasan laen dalam kecerdasan majemuk (Multiple Intellegence) yang dikemukakan oleh Dr. Howard Garden seorang profesor dalam bidang psikologi pendidikan. Sembilan kecerdasan itu adalah kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpesonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial.

Para Orang tua dan guru ayo kita keluar dari paradikma bahwa IQ (Intellegence Quotient) adalah bukan kecerdasan utama dan satu-satunya indikator kecerdasan manusia.
Mari kita jalan bersama, saling berbagi, saling mengisi untuk bagaimana kita menghantarkan anak-anak ke gerbang kesuksesan sesuai dengan fitrahnya.