Selasa, 16 Oktober 2012
BAHAGIA ITU ABADI
BAHAGIA TAK BERSYARAT
Dengan mudahnya banyak orang mengatakan kata stress sebagai bukti tidak bahagia. “wah saya stres nih!” begitu kata yang sering muncul dari orang-orang. Bahkan ungkapan melas sejenis itu sempat menjadi judul atau tema lagu-lagu dangdut Indonesia jadul, seperti, Aku orang termiskin di dunia, Baju satu kering di badan. Sungguh memprihatinkan. Saya jadi curiga, jangan jangan pemimpin yang senang mengumbar ungkapan,” saya prihatin...” mencerminkan mentalitas sebagian besar orang yang dipimpinnya –naudzubillahi mindzalik!
Mengapa begitu mudahnya kata tak bermutu itu berhamburan? Apakah itu hanya kata pelampiasan akan kepenatan otak yang digulung berbagai problem, atau kekosongan jiwa, atau rasa teralienasi atau rasa sepi, atau rasa ketakberdayaan sehingga untuk mengambil simpati orang, mencari perhatian orang, keluarlah kata-kata itu. Mereka tidak menyadari , bahwa kata-kata itu justru berakibat buruk. Kesan orang menjadi buruk kepadanya dan mengotori mentalitas mereka, dan ini menjadi tertutupnya pintu rizki, kata buruk itu juga menebar energi negatif, menyedot energi positif. Bahkan lebih parah lagi, dia kehilangan kesempatan untuk menggenggam kegembiraan dan kebahagiaan.
Memang sifat manusia senang berkeluh kesah bila ditimpa musibah dan lupa diri jika mendapat kegembiraan. Tentu itu manusia kelas rendah, yang kebahagiaannya dia gantungkan pada benda atau kepada segala sesuatu yang rendah dan nisbi.
Kita seharusnya meresapi firman Allah dalam sebuah hadits qudsi, “Aku berbuat seperti sangkaan hambaKu, bila ia menyangka kebaikan Aku akan baikan ia, dan sebaliknya bila ia menyangka buruk Aku akan burukkan ia Dan aku bersamanya, selama dia mengingat Ku.”
Untuk bahagia hanya satu fondasinya, yaitu kepasrahan total kepada Sang Maha Kuasa. Dan tidak mensyaratkan apapun yang tidak penting. Seperti: “ aku akan nikah bila aku sudah punya ini dan itu”, “aku bahagia kalau aku menduduki jabatan ini dan itu”, “aku bahagia kalau sudah ini dan itu”. Ada lagi yang memahami, bahwa bahagia itu kalau dapat rizki. Ini jelas pemahaman materialistis, sehingga makna rizki dipersempit hanya urusan materi, urusan jasmani. Padahal rizki itu sangat luas maknanya, yang dapat kita pahami dalam tiga ranah, yaitu rizki dalam bentuk materi –ini yang paling rendah, dalam bentuk kesehatan dan- yang tertinggi- dalam bentuk iman dan taqwa.
Sebab banyak orang kafir yang lebih kaya dan lebih sehat dari orang yang beriman, padahal mereka miskin dan sakit jiwa dan akal sehatnya tentu tidak bahagia, karena tidak punya iman, apalagi taqwa. Maka sengsaralah orang yang mengatakan: “ semua perlu duit, gak punya duit qoit!” atau mengatakan :” cari yang haram saja susah apalagi yang halal!” subhanallah. Inilah mitos yang merusak tatanan nilai-nilai dalam diri dan dalam masyarakat. Nilai yang jauh dari keimanan dan ketaqwaan.
Berbahagialah, karena bahagia hak semua orang. Bahagia bisa diraih kapan saja di mana saja tanpa ada yang mencurinya, kecuali bila kita mengizinkannya untuk dicuri. Ingat pencuri bahagia setiap hari mengintai kita.
Dekat dan pasrahlah pada Allah, berpositif hati serta mohon padaNya untuk selalu mampu membahagiakan semua manusia dan makhluk Nya. Dijamin, anda orang yang paling bahagia!
Langganan:
Komentar (Atom)