Selasa, 30 Maret 2010

Sepuluh Kesalahan Dalam Mendidik Anak.

Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Maka, kita sebagai orang tua bertanggung jawab terhadap amanah ini. Tidak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak telah menjadi fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar, dan termasuk menghianati amanah Allah.

Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Kumpulan dari beberapa rumah itu akan membentuk sebuah bangunan masyarakat. Bagi seorang anak, sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia akan mendapatkan pendidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan prototype kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, disinilah peran dan tanggung jawab orang tua, dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.

BAHAYA LALAI DALAM MENDIDIK ANAK
Orang tua memiliki hak yang wajib dilaksanakan oleh anak-anaknya. Demikian pula anak, juga mempunyai hak yang wajib dipikul oleh kedua orang tuanya. Disamping Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua. Allah juga memerintahkan kita untuk berbuat baik (ihsan) kepada anak-anak serta bersungguh-sungguh dalam mendidiknya. Demikian ini termasuk bagian dari menunaikan amanah Allah. Sebaliknya, melalaikan hak-hak mereka termasuk perbuatan khianat terhadap amanah Allah. Banyak nash-nash syar’i yang mengisyaratkannya. Allah berfirman.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhamamd) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” [Al-Anfal : 27]

SEPULUH KESALAHAN DALAM MEDIDIK ANAK
Meskipun banyak orang tua yang mengetahui, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orang tua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak menaruh perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya.

Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat durhaka, melawan orang tua, atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua mulai kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.

Lalai atau salah dalam mendidik anak itu bermacam-macam bentuknya, yang tanpa kita sadari memberi andil munculnya sikap durhaka kepada orang tua, maupun kenakalan remaja.

Berikut ini sepuluh bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

[1]. Menumbuhkan Rasa Takut Dan Minder Pada Anak
Kadang, ketika anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti menangis. Kita takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin dan lain-lain. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut : Takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Misalnya takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita-cerita tentang hantu, jin dan lain-lain.

Dan yang paling parah tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakut-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya, anak-anak semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat darah atau merasa sakit.

[2]. Mendidiknya Menjadi Sombong, Panjang Lidah, Congkak Terhadap Orang Lain. Dan Itu Dianggap Sebagai Sikap Pemberani.
Kesalahan ini merupakan kebalikan point pertama. Yang benar ialah bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak dikurang-kurangi. Berani tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada orang lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya : takut berbohong, karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak yang suka berbohong, atau rasa takut kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.

[3]. Membiasakan Anak-Anak Hidup Berfoya-foya, Bermewah-mewah Dan Sombong.
Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqomah dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakah muru’ah (harga diri) dan kebenaran.

[4]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak
Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaanya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik.

[5]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak, Ketika Menangis, Terutama Anak Yang Masih Kecil.
Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.

[6]. Terlalu Keras Dan Kaku Dalam Menghadapi Mereka, Melebihi Batas Kewajaran.
Misalnya dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lainnya. Ini kadang terjadi ketika sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.

[7]. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak, Melebihi Batas Kewajaran
Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai cara. Misalnya : dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain.

[8]. Tidak Mengasihi Dan Menyayangi Mereka,
Sehingga Membuat Mereka Mencari Kasih Sayang Diluar Rumah Hingga Menemukan Yang Dicarinya.

Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas –

[9]. Hanya Memperhatikan Kebutuhan Jasmaninya Saja.
Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Bila kasih sayang tidak di dapatkan dirumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.

[10]. Terlalu Berprasangka Baik Kepada Anak-Anaknya
Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada anak-anaknya. Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya. Ketika tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya terkena narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha menutup-nutupinya serta segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa hanyalan penyesalan tak berguna.

Demikianlah sepuluh kesalahan yang sering dilakukan orang tua. Yang mungkin kita juga tidak menyadari bila telah melakukannya. Untuk itu, marilah berusaha untuk terus menerus mencari ilmu, terutama berkaitan dengan pendidikan anak, agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak, yang bisa menjadi fatal akibatnya bagi masa depan mereka. Kita selalu berdo’a, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah serta berakhlak mulia. Amiin......Ya Robbal Alamin....

Ditulis ulang oleh : Masnunah.


Rabu, 10 Maret 2010

Mengenal Fungsi Belahan Otak

Anda pasti tahu bahwa anugerah terbesar yang diberikan oleh Alloh kepada manusia adalah Otak. Otak identik dengan akal karena adanya otak, manusia dapat berfikir untuk menentukan arah hidupnya. Otak merupakan organ penting bagi kehidupan manusia karena otak sebagai koordinator dan pusat pengendali organ-organ tubuh manusia.

Otak manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kanan dan otak kiri. Tahukah anda bahwa kedua belahan otak kita ini mengatur fungsi yang berbeda? Teori tentang perbedaan fungsi otak kanan dan kiri telah populer sejak tahun 1960 ketika seorang peneliti bernama Roger Sperry menemukan bahwa otak manusia terdiri dari dua bagian yang berbeda dan memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda pula.

~ Fungsi Belahan Otak Kanan.

Otak kanan berperan dalam hal persamaan, imajinasi, kreativitas, emosi, musik, warna, dan pengenalan bentuk atau ruang. Para seniman dan musisi biasanya mempunyai otak kanan yang lebih aktif. Mereka mencipta lagu dan bermain musik dengan lebih banyak menggunakan otak bagian kanan. Begitu juga dengan pelukis. Ia mampu melakukan aktivitas kreatif melukis dan bermain warna karena didukung oleh kerja otak kanan.

~ Fungsi Belahan Otak Kiri.

Berbeda dengan belahan otak kanan, otak kiri bersifat logis, rasional, dan sangat teratur. Otak kiri berfungsi dalam hal perbedaan, permainan angka, kemampuan menulis dan berbahasa, serta hitung-hitungan atau kemampuan matematis. Belahan otak kiri ini digunakan oleh seluruh manusia di dunia dalam aktivitas berfikirnya.

~ Perbandingan Belahan Otak Kanan Dan Belahan Otak Kiri.

Bagian otak yang lebih banyak digunakan oleh seseorang dapat diketahui dari dominasi kemampuan indera yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Otak kita menggunakan prinsip silang. Otak kiri mengendalikan anggota gerak dan indera kita yang sebelah kanan. Sementara itu, otak kanan mengendalikan anggota tubuh sebelah kiri.

Otak kiri yang menguasai hal-hal yang berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta menjadi pusat matematika sangat penting dalam kehidupan kita. Apabila dalam proses belajar, banyak subyek pelajaran yang merangsang dan membutuhkan kerja otak kiri. Apabila otak kiri tidak banyak digunakan atau tidak difungsikan dengan baik maka tentunya akan sulit bagi anak untuk menangkap pelajaran yang membutuhkan partisipasi otak kiri, seperti pelajaran bahasa, matematika, dan ilmu pengetahuan alam.

Otak kanan berfungsi untuk melakukan sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan orang laen, dan mengendalikan emosi. Otak kanan juga mendukung kemampuan dalam hal merasakan, memadukan, dan mengekspresikan tubuh (seperti, menari, menyanyi dan melukis). Kemampuan-kemampuan tersebut tidak kalah pentingnya dalam proses pembelajaran dan penyelesaian masalah.

Walaupun kedua belah otak mempunyai fungsi yang berbedah, tetapi setiap orang mempunyai kecenderungan untuk menggunakan salah satu belahan yang dominan dalam menyelesaikan masalah kehidupan maupun pekerjaan.

Setiap belahan otak mendominasi dalam aktivitas, tetapi keduanya terlibat pada hampir semua proses pemikiran. Kedua bagian otak ini mempunyai karakteristik yang saling melengkapi dan akan sangat merugikan apabila salah satu bagian otak lebih mendominasi karena dapat mengalahkan fungsi bagian otak yang lainnya.

Untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal, kedua belah otak perlu digunakan secara seimbang satu sama lain.

~ Perlunya Menyeimbangkan Kerja Otak.

Kerja sama antara otak kanan dan otak kiri mutlak diperlukan oleh anak agar potensi dan tumbuh kembang otaknya menjadi optimal. Menyeimbangkan kinerja belahan otak bukanlah hal yang mustahil. Kita perlu sering melatih pengembangan seluruh kekuatan otak. Potensi tersebut terdapat pada diri setiap orang, termasuk anak-anak.

Apa yang terjadi jika kerja sama antara otak kanan dan otak kiri kurang seimbang? Anda tentu pernah menemui anak atau bahkan orang dewasa yang kikuk dan canggung gerakannya, atau cenderung mudah terpeleset, tersandung, dan memecahkan barang. Hal ini dapat disebabkan oleh kurang baiknya kerja sama antara otak kanan dan otak kiri.

Sumber : Buku Meningkatkan Kecerdasan Anak.