Para orang tua dan guru yang saya cintai, orang bijak pernah berpesan "Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya karna mereka hihup pada zaman yang berbeda dengan zaman kita hidup dulu." Pesan ini benar-benar memiliki makna yang begitu mendalam, mengapa? Karena kita kerap kali membanding-bandingkan masa lalu kita untuk menjadi sesuatu yang selalu harus ditiru oleh anak-anak kita.
Kita sering lupa bahwa zaman sudah berubah, pendidikan pada zaman kartini dulu dibesarkan tentunya sudah tidak cocok lagi untuk diterapkan pada zaman dulu kita dibesarkan, demikian pula dengan zaman anak kita, dia membutuhkan cara-cara pendidikan baru yang sesuai zamannya.
Jika ingin anak-anak kita maju, tentunya kita juga harus mengajaknya untuk selalu melihat ke depan, dan bukan sebaliknya. Apa yang terjadi bila seseorang berjalan ke depan, tapi selalu diajak menengok ke belakang?
Hampir semua anak, mulai usia prasekolah hingga remaja sering kali membuat masalah, betapa pun sempurnanya orang tua mereka. Mengapa? Hal ini terjadi karena pada awalnya seorang anak memiliki keinginan sendiri yang lahir secara naluriah sebagaimana orang tua mereka, masalah itu mulai muncul manakala keinginan dasar anak secara naluriah tersebut bertentangan dengan nilai-nilai kepatutan yang dianut oleh orang-orang dewasa.
Contoh yang paling sederhana adalah pada kasus anak usia balita. Secara naluriah seorang bayi punya keinginan instingtif untuk memasukkan segala sesuatu yang dipegangnya ke dalam mulut, namun ternyata keinginan tersebut di mata orang tua dianggap kurang sehat dan bahkan cenderung berbahaya, terutama jika yang dimasukkan ke mulutnya adalah benda-benda yang kotor ataupun beracun. Sehingga orang tuanya kerap kali berteriak-teriak untuk melarang anaknya untuk memasukkan benda ke mulut. Padahal belakangan diketahui oleh para ahli bahwa sesungguhnya memasukkan sesuatu ke mulut tersebut adalah dalam rangka melatih indra perasa si bayi. Seandainya kita para orang tua mengetahui adanya kebutuhan dasar yang alamiah ini mungkin kita tidak akan memberikan reaksi terlalu berlebihan bagi perilaku anak-anak kita yang kita anggap kurang patut tadi.
Perbedaan keinginan dasar anak dengan nilai-nilai kepatutan orang dewasa ini terus berlangsung mulai usia mereka balita hingga dewasa. Namun sayangnya, kebanyakan orang tua tidak menyadari jika anak-anak mereka membutuhkan waktu untuk bisa menyesuaikan antara keinginan-keinginan dasar mereka sendiri dengan nilai-nilai kepatutan yang dianut oleh orangtuanya. Sehingga kerap kali kita bukannya memberikan pemahaman yang baik pada anak sampai dia benar-benar memahami apa yang diharapkan orangtuanya, malahan melakukan intervensi yang berlebihan seperti dalam bentuk bentakan, teriakan atau bahkan mungkin cubitan, pukulan dan sebagainya, yang kerapkali justru melukai perasaan si anak dan bukan mendidiknya untuk menjadi lebih baik.
Apabila para orang tua tidak segera menyadari kesalahannya ini, maka akan berakibat sangat fatal. Proses mendidik anak akan terasa sangat berat dan selalu dipenuhi dengan pertengkaran yang semakin hari semakin para.
Ketahuilah bersama bahwa masa depan anak adalah masa depan bangsa, dan masa depan anak yang sukses tergantung sepenuhnya pada kemampuan para orang tua untuk mendidik anak-anak secara tepat.
Mari kita mulai belajar menjadi orangtua yang baik dan mari kita bangun indonesia yang kuat melalui anak-anak kita tercinta.
Let's Make Indonesia Strong From Home. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi ???!!! Di kutip dari buku I Love You Ayah Bunda, Karya Ayah Edy.
Jumat, 26 Februari 2010
Rabu, 24 Februari 2010
Untuk mu para orang tua......
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesrkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan. ( Dorothy Law Nolte)
Senin, 08 Februari 2010
Untuk para orang tua dan pendidik.....
Anak adalah amanah bagi kita, yang harus kita jaga, kita pelihara, kita bimbing, kita hantarkan pada masa depan, tentunya masa depan yang gemilang. Tapi kita sering kali salah dalam proses penghantaran itu sendiri, cara yang kita pakai malah sering kali mencederai mereka.
Kita sering memaksakan keinginan kita dengan dalih mengarahkan anak ke jalur yang tepat demi masa depan mereka.
Kita sering memaksakan anak untuk bagus dalam semua nilai mata pelajaran di sekolah, kita cenderung memaksakan anak untuk mendapatkan rangking di kelasnya. Di sinilah penyebab terjadinya cedera pada anak, anak sering kehilangan waktu bermainnya yang seharusnya itu adalah hak mutlak mereka di masanya, karena anak terus dipaksa untuk belajar, belajar dan belajar, anak juga jadi tidak punya kebebasan dalam memilih, karna orang tua cenderung memaksakan kehendak, tanpa memikirkan jiwa anak.
Banyak persepsi dengan IQ (Intellegence Quotient) yang tinggi pasti masa depannya akan gemilang trus bagaimana dengan anak yang terlahir dengan IQ yang sedang, rendah ??? Apakah mereka tidak akan punya masa depan ???
Sampai saat ini masih banyak orang tua juga guru yang masih terjebak pada pandangan tradisional tersebut.
Para orang tua setiap anak yang terlahir dibekali Allah kecerdasan, semua anak adalah bintang, Ada 9 kecerdasan laen dalam kecerdasan majemuk (Multiple Intellegence) yang dikemukakan oleh Dr. Howard Garden seorang profesor dalam bidang psikologi pendidikan. Sembilan kecerdasan itu adalah kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpesonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial.
Para Orang tua dan guru ayo kita keluar dari paradikma bahwa IQ (Intellegence Quotient) adalah bukan kecerdasan utama dan satu-satunya indikator kecerdasan manusia.
Mari kita jalan bersama, saling berbagi, saling mengisi untuk bagaimana kita menghantarkan anak-anak ke gerbang kesuksesan sesuai dengan fitrahnya.
Langganan:
Komentar (Atom)